Pertemuan 7 KPPL

Anggota :

5025231187 - Dapunta Adyapaksi R
5025231214 - Raymond Feivel Liander
5025231240 - Danny Rachmadian Yusuf S

Studi Kasus Pembuatan Aplikasi dengan menggunakan Metode Waterfall


Pendahuluan

Di era digital, penggunaan sistem informasi berbasis web semakin banyak diterapkan di berbagai sektor, baik ekonomi maupun non-ekonomi, untuk meningkatkan efisiensi dan keakuratan data. Dalam hal ini, proses pengelolaan data manual dianggap kurang efektif dalam memenuhi kebutuhan penyajian informasi yang cepat dan tepat. Salah satu solusi yang banyak digunakan adalah sistem helpdesk, yang memfasilitasi penanganan masalah secara cepat dan memudahkan pelanggan maupun internal perusahaan. Penggunaan sistem helpdesk berbasis web diharapkan dapat memonitor dan menangani masalah inventaris dengan lebih baik, sehingga mempermudah manajemen IT dan meningkatkan produktivitas perusahaan.

Penjelasan Metode Waterfall

Metode Waterfall adalah salah satu model pengembangan perangkat lunak yang paling tradisional dan sistematis. Dalam pendekatan ini, setiap tahapan pengembangan aplikasi dilakukan secara berurutan dan tidak dimulai sebelum tahap sebelumnya selesai. Setiap fase memiliki peran yang jelas dan terstruktur, dengan dokumen dan output yang harus dihasilkan sebelum melangkah ke tahap berikutnya. Ini membuat Waterfall mudah dimengerti dan diimplementasikan dalam proyek dengan persyaratan yang jelas dan stabil.

Metode Pengembangan

1. Requirement Gathering and Analysis

Pada tahapan ini, kebutuhan system dikumpulkan dengan berbagai cara, salah satunya adalah mewawancarai calon pengguna, dan menganalisis permasalahan yang ada untuk menentukan fitur fitur yang diinginkan didalam aplikasi.

Functional Requirements:
  • Login System: Sistem autentikasi untuk karyawan atau teknisi.
  • Report Submission: User dapat mengirimkan keluhan beserta deskripsi, prioritas, dan bukti lampiran.
  • Dashboard Karyawan : Tampilan bagi karyawan untuk mengecek atau melaporkan suatu permasalahan.
  • Dashboard Teknisi : Tampilan bagi teknisi untuk melihat antrian permasalahan, mengatasi, dan merubah statusnya.
  • Notification System: Mengirimkan notifikasi ke teknisi yang bertanggung jawab untuk masalah yang disubmit.
  • History Tracking: Merekam semua laporan yang telah diselesaikan untuk analisa lebih lanjut.
  • Chatbot : Merupakan fitur tambahan untuk membantu karyawan agar dapat menyelesaikan masalah masalah kecil sebelum membuat laporan masalah yang lebih besar

Non-Functional Requirements:
  • Scalability: Sistem harus dapat menangani puluhan bahkan ratusan laporan tanpa masalah kinerja.
  • Security: Menggunakan protokol HTTPS dan enkripsi pada semua data yang dikirimkan.
  • Usability: Antarmuka sederhana dan mudah digunakan oleh karyawan tanpa pengalaman teknis.

2. System Design

Pada tahapan ini, aplikasi mulai dirancang. Gambar dibawah merupakan output dari tahapan ini berupa flowchart yang menunjukkan alur login karyawan atau teknisi, serta pelaporan masalah dan cara menanganinya.


Start:
1. Pengguna membuka aplikasi TechFix.

Login:
1. Pengguna memasukkan kredensial (username dan password).
2. Jika kredensial valid, pengguna diarahkan ke dashboard.
3. Sistem memverifikasi pengguna (karyawan/teknisi).
4. Jika tidak, pesan kesalahan ditampilkan dan pengguna diminta mencoba lagi.

Dashboard Karyawan (Submit Masalah):
1. Karyawan dapat mengecek atau mengisi form laporan masalah.
2. Karyawan memasukkan deskripsi masalah, memilih prioritas, dan melampirkan file jika perlu.
3. Laporan disimpan di database dan notifikasi dikirimkan ke teknisi yang bertugas.
4. Karyawan akan menerima notifikasi jika masalah telah diselesaikan.

Dashboard Teknisi (Review Masalah dan Solve Masalah):
1. Teknisi menerima notifikasi masalah.
2. Teknisi memeriksa deskripsi dan prioritas.
3. Teknisi menangani masalah dan memperbarui status laporan (open/closed).
4. Jika sudah selesai, teknisi memberikan solusi dan menutup laporan.

End:
- Sistem kembali ke dashboard masing-masing sesuai hak akses.


Gambar dibawah ini merupakan skema Pelaporan Masalah oleh Pengguna dari awal hingga selesai.


3. Implementation

Pada tahapan ini, semua fitur fitur serta design yang telah dibuat sebelumnya akan diimplementasikan.

Tools dan Sistem yang Digunakan

  • Whimsical yang digunakan untuk membuat Flowchart
  • Figma yang digunakan untuk membuat UI Design
  • 4. Testing

    Pada tahapan ini, dilakukan pengujian terhadap aplikasi yang telah dibuat sesuai dengan spesifikasi aplikasi yang telah dibuat sebelumnya.

    5. Deployment

    Aplikasi diluncurkan dan tersedia untuk pengguna.

    6. Maintenance

    Pada tahapan ini, aplikasi akan menjalani pemeliharaan, dan akan melakukan perbaikan pada bug atau hal hal yang tidak berjalan sesuai dengan keinginan. 

    Hasil

    Menu Login



    Dashboard Karyawan/Pengguna



    Dashboard Teknisi


    Menu Chatbot


    Kesimpulan

    Metode Waterfall adalah model pengembangan perangkat lunak yang terstruktur secara linier dan berurutan, di mana setiap tahap harus diselesaikan sebelum melanjutkan ke tahap berikutnya. Tahapan utamanya mencakup: pengumpulan kebutuhan, desain sistem, implementasi, pengujian, deployment, dan pemeliharaan.Secara keseluruhan, metode Waterfall efektif digunakan dalam proyek yang persyaratannya jelas dan stabil, namun kurang ideal untuk proyek yang membutuhkan adaptasi atau perubahan berkelanjutan.


    Video Presentasi






    Komentar

    Postingan populer dari blog ini